Volume
3, Nomor 2,
Tahun 2013,
Hlm 1-10
PERBEDAAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN DAN TINGKAT
KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP PAYANG DAN CANTRANG DI PELABUHAN
PERIKANAN PANTAI TAWANG KABUPATEN KENDAL
Income Level Differences Fisherman
and The Financial Feasibility of Fishing
Industries Payang and
Cantrang in Coastal Fishing Port
Tawang Kendal
Teguh
Lestariono*), Abdul Rosyid dan Dian Wijayanto
Program Studi Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan
Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Jl. Prof.
Soedartho, Tembalang (email: teguhlestariono@yahoo.com)
ABSTRAK
Kabupaten
Kendal memiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang yang terletak di Desa
Gempolsari kecamatan Rowosari. PPP Tawang tersebut membawahi 4 TPI, yaitu TPI
Tawang, TPI Sendang Sikucing, TPI Tanggul Malang dan TPI Bandengan. TPI Tawang
merupakan TPI terbesar yang ada di kabupaten Kendal dengan jumlah produksi pada
tahun 2011 sebesar 1.530,8 ton. Alat tangkap payang dan cantrang berjumlah
hampir sama. Jumlah alat tangkap payang pada tahun 2011 tercatat adalah 49 unit
dan alat tangkap cantrang sebanyak 42 unit. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui pendapatan nelayan serta menganalisis tingkat kelayakan usaha alat
tangkap payang dan cantrang, yang dilaksanakan pada bulan september–oktober
2012 di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang Kabupaten Kendal. Metode penelitian yang
digunakan pada penelitian ini adalah metode snowball
sampling dengan menentukan satu atau dua orang sebagai sampel dan selanjutnya
menunjukkan orang lain yang bisa dijadikan sampel. Analisis data menggunakan
uji parsial t (t test) dengan SPSS 17.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat
pendapatan per ABK nelayan dengan alat tangkap cantrang lebih besar dari
pendapatan ABK nelayan dengan alat tangkap payang yaitu pendapatan per ABK
nelayan dengan alat tangkap cantrang sebesar Rp 51.072 /trip dan payang sebesar
Rp 34.922 /trip dan menunjukan bahwa kedua usaha alat tangkap tersebut layak
untuk dijalankan, karena nilai NPV kedua usaha tersebut bernilai positif dengan
didapatkan NPV untuk jaring payang sebesar Rp 1.009.616.526 dan untuk NPV
jaring cantrang sebesar Rp 856.936.337. Didapatkan juga nilai IRR untuk jaring
payang sebesar 494% dan IRR untuk jaring cantrang sebesar 390%. Hal ini
membuktikan bahwa kedua usaha penangkapan masih menghasilkan keuntungan dan
layak untuk dijalankan.
Kata kunci: Cantrang;
Payang; Pendapatan; Keuntungan;
Kelayakan usaha.
ABSTRACT
Kendal has Tawang Coastal Fishing Port
which is located in the village of Gempolsari in district Rowosari. The PPP
Tawang supervise 4 TPI, the TPI Tawang, Spring Sikucing TPI, TPI Tanggul Malang
and TPI Bandengan. Tawang TPI is the biggest TPI Kendal with a total production
in 2011 amounted to 1530.8 tonnes. Cantrang and payang gear have almost the
same amount. The number of payang fishing gear recorded in 2011 was 49 units
and cantrang gear as many as 42 units. The purpose of this study was to
determine the income of fishermen and analyzed the feasibility cantrang and payang
gear, which was conducted in September-October 2012 in the Coastal Fishing Port Kendal.
The research method used in this study is the snowball sampling method to
determine the one or two people as the sample and then show others that can be
sampled. Analysis of data using partial t test (t test) with SPSS 17.0. The
results showed that the average level of income per crew fishing with cantrang
gear is greater than the income of fishermen with crew fishing with payang gear
is income per crew fishing with cantrang gear is Rp 51,072 / trip and payang is
Rp 34,922 / trip and showed that both businesses gear is feasible to run,
because the NPV of both the business is positive with the NPV obtained for net
payang Rp 1,009,616,526 and net cantrang to NPV of Rp 856,936,337. Available
also for a net IRR of 494% payang and IRR for cantrang net amounted to 390%.
This proves that both fishing effort and still make a decent profit to run.
Key
words: Cantrang;
Payang; Revenue; Profit; Financial Feasibility.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki lautan yang luas
dengan sumberdaya perikanan yang cukup tinggi. Sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia, wilayah Indonesia terdiri dari sepertiga dan dua pertiga
perairan lautan (samudera) dengan wilayah daratan mencakup 17508 pulau dibatasi
oleh garis pantai sepanjang 81.000 km. Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI)
seluas 2,7 juta km, merupakan suatu zona yang dapat dimanfaatkan dan dikelola
potensi sumberdaya alamnya (Murdjijo F. X, 2001).
Menurut Dinas Kelautan
dan Perikanan Jawa Tengah (2011), jumlah produksi perikanan di Provinsi Jawa
Tengah adalah 195.635,7 ton dengan nilai produksi Rp 1.103.715.212.000,00.
Jumlah produksi ini terdiri dari jumlah produksi tiap kabupaten. Menurut
banyaknya jumlah produksi perikanan, Kabupaten Rembang menduduki peringkat
pertama dengan total jumlah produksi 40.449,1 ton atau 20,7% dan nilai produksi
Rp 205.461.298.000,00. Sedangkan Kabupaten
Kendal menduduki peringkat 13 dengan jumlah produksi sebesar 1.530,8 ton atau
0,8% dengan nilai produksi sebesar Rp 8.953.392.000,00.
Sebagian
besar masyarakat sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang bermata pencaharian
utama adalah sebagai nelayan. Jumlah usaha perikanan jaring cantrang dan payang
di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang mengalami penurunan jumlah unit alat
tangkap. Dari jumlah seluruh alat tangkap yang ada di Pelabuhan Perikanan
Pantai Tawang, jaring cantrang dan payang sering mengalami penurunan jumlah
unit alat tangkap setiap tahunnya. Jumlah alat tangkap yang beroperasi di
wilayah pada tahun 2007 jumlah alat tangkap payang
sebanyak 57 unit, dan cantrang sebanyak 45 unit. Sedangkan pada tahun 2011
jumlah alat tangkap payang sebanyak 49 unit, dan cantrang sebanyak 42 unit. Hal
ini membuktikan tidak ada perubahan jumlah yang signifikan antara kedua alat
tangkap tersebut. Namun, bagaimana dengan perbandingan tingkat pendapatan
nelayan dari masing-masing usaha penangkapan.
Alat tangkap yang digunakan sebagai objek penelitian
adalah alat tangkap payang dan alat tangkap cantrang di Pelabuhan Perikanan
Pantai Tawang, Kendal. Pendapatan masing-masing nelayan payang dan cantrang di
PPP Tawang pada umumnya sangat
tergantung dari jumlah hasil tangkapan, dimana tingkat pendapatan nelayan satu
dengan yang lain berbeda berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan.
Pendekatan
Masalah
Secara
umum kondisi perikanan di Kabupaten Kendal belum maju, terlihat dari
kesejahteraan masyarakat terutama di Pelabuhan Perikanan Pantai
Tawang. Terbukti dari beberapa TPI di Kabupaten Kendal, produksi perikanan
tangkap di TPI Tawang paling besar, yaitu 526.706 ton. Sedangkan jumlah produksi
terbanyak kedua setelah TPI Tawang adalah TPI Sendang Sekucing yang ada di TPI Sendang Sikucing, yaitu sebesar 291.916 ton. Posisi ketiga adalah
TPI Tanggul Malang dengan jumlah produksi 133.769 ton dan yang terakhir adalah
TPI Bandengan, yaitu sebesar 95.480 ton (DKP Jateng, 2006).
Penelitian ini merupakan penelitian sangat penting,
karena dapat memberikan masukan kepada masyarakat nelayan di sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang mengenai
produktivitas serta faktor-faktor produktivitas yang dapat meningkatkan
produktivitas alat tangkap tersebut. Selain
itu juga
dapat membandingkan antara keuntungan dari usaha perikanan cantrang dan
payang juga membandingkan besarnya pendapatan ABK nelayan cantrang dan payang, mengingat jumlah jaring payang lebih banyak dibandingkan
cantrang.
Tingkat pendapatan dari sistem bagi hasil
yang diterapkan pada unit perikanan cantrang dan payang akan mempengaruhi
tingkat kesejahteraan keluarga nelayan ABK cantrang dan payang.
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui
pendapatan rata-rata ABK nelayan payang dan ABK cantrang di
Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang Kabupaten Kendal;
2. Menganalisis aspek finansial usaha jaring payang
dan cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang
Kabupaten Kendal dengan pendekatan NPV,
IRR, R/C ratio, payback period, dan
rentabilitas;
3. Mengetahui signifikasi perbedaan pendapatan usaha
perikanan dengan jaring payang dan cantrang.
METODE PENELITIAN
Penelitian
dilakukan dengan metode survei,
metode survei adalah salah satu bagian dari metode diskriptif. Metode survei
merupakan metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau
kejadian. Metode survei sendiri diartikan sebagai metode yang digunakan dalam
penelitian untuk memperoleh fakta yang ada dan mencari keterangan secara
faktual dari suatu kelompok atau daerah. Kelompok yang diambil sebagai obyek
pengkajian adalah nelayan dengan alat tangkap jaring payang dan
cantrang.
Metode pengambilan sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan
adalah snowball sampling atau sampel
bola salju. Cara pengambilan sampel ini digunakan karena jumlah populasi dari
objek yang diamati tidak diketahui. Proses pengambilan sampel yang dilakukan
adalah dengan menentukan satu atau dua orang dijadikan sebagai sampel. Tahap
berikutnya adalah dengan menanyakan kepada sampel pertama untuk menunjukkan
orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel (Pratama A. F, 2012).
Snowball sampling adalah teknik penentuan
sampel yang mula-mula jumlah kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Penentuan jumlah sampel dibatasi sebanyak
30 responden pada setiap alat tangkap yang diamati. Jumlah ukuran sampel
sebaiknya minimum 30 sampel agar dapat diperoleh data yang homogen (Sugiyono, 2002).
Analisis Data
Analisis
pendapatan
a.
Pengeluaran
Menurut Soekartawi (1995) analisis pengeluaran adalah besaran yang mengukur
total pengeluaran yang digunakan untuk penangkapan baik untuk perbekalan, perawatan,
dan lain-lain.
b. Pendapatan
Analisis pendapatan adalah besaran yang
mengukur jumlah pendapatan nelayan yang diperoleh dari hasil tangkapan,
menghitung pendapatan nelayan dapat digunakan formulasi rumus sebagai berikut:
TR= Q X P
Dimana:
TR= Total pendapatan
Q = Hasil
tangkapan
P = Harga jual
c.
Keuntungan
Analisis keuntungan adalah hasil selisih
antara pendapatan total dengan biaya total yang digunakan untuk memperoleh
pendapatan tersebut. Pendapatan bagi pengusaha adalah sisa setelah jumlah pendapatan
dikurangi dengan seluruh biaya produksi. Dapat dirumuskan sebagai berikut:
P =TR-TC
Dimana:
P =
Keuntungan
TR = Total pendapatan
TC = Total
pengeluaran
Analisa finansial
Usaha perikanan jaring payang dan jaring
cantrang merupakan usaha perikanan yang tidak membutuhkan modal terlalu besar sehingga digunakan kriteria undiscounted. Kriteria undiscounted meliputi analisis rasio
penerimaan dan biaya (R/C), analisis rentabilitas, analisis payback period.
1. Analisis
R/C ratio
Menurut Sutrisno (1982), R/C ratio
dinyatakan dengan rumus :
R/C=
TR/TC
Dimana :
TR = total penerimaan
TC = total biaya
2. Analisis
payback period
Menurut Firdaus M (2007), payback period
dinyatakan dengan rumus :
payback period = Modal x 1 tahun
Keuntungan
3. Analisis
Rentabilitas
Menurut Riyanto (2001), Internal rate of return (IRR)
dinyatakan dengan rumus :
Rentabilitas
= Keuntungan X 100%
Modal
Nilai rentabilitas diatas 25% menunjukan bahwa usaha tersebut bekerja
pada kondisi efisien dan sebaliknya bila sama dengan atau dibawah 25% maka
usaha tersebut tidak bekerja pada kondisi efisien (Riyanto, 2001).
Menurut Dahlan
(2011), untuk menganalisis
kriteria investasi biasanya digunakan analisis NPV, dan IRR
1. NPV
Net present
value (NPV)
dinyatakan dengan rumus :
NPV =
PV- I
Dimana :
PV = present value
I
= Biaya investasi awal
2. IRR
Menurut Dahlan (2011), internal rate of return (IRR)
dinyatakan dengan rumus :
IRR = Ir +[NPVir/( NPVir+NPVit)] X (It - Ir)
Dimana :
Ir =
Bunga rendah
It = Bunga tinggi
NPV Ir =
NPV pada bunga rendah
NPVIt = NPV pada bunga tinggi
Analisa
Statistik Uji t (t test)
a. Kegunaan: Uji t untuk membandingkan rata-rata populasi yang berskala interval
b. Contoh kasus: Peneliti ingin membandingkan dua kelompok pekerja.
c. Hipotesis:
* Hipotesis penelitian: Ada perbadaan rata-rata
antara kedua kelompok pekerja tersebut.
* Hipotesis Operasional:
-
H0 : Tidak
ada perbedaan rata-rata antara kedua kelompok pekerja tersebut
-
H1 : Ada
perbedaan rata-rata antara kedua kelompok pekerja tersebut
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Keadaan Umum Daerah Penelitian
Secara administratif Pelabuhan
Perikanan Pantai (PPP) Tawang terletak di Dukuh Tawang, Desa Gempolsewu,
Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal dan secara astronomis terletak di antara 6o55’0.3”
Lintang Selatan dan 110o02’49”
Adapun
batas wilayah kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang
sebagai berikut :
* Sebelah Utara : Rumah Penduduk
* Sebelah Timur : Rumah Penduduk
* Sebelah Selatan : Gedung Sekolah
* Sebelah Barat : Sungai Kalikuto
Kondisi Perikanan Daerah
Penelitian
Alat tangkap yang ada di Pelabuhan Perikana
Pantai Tawang adalah cantrang 42 unit, mini
purse seine 12 unit, payang 49 unit, gill
net 157 unit, jaring dogol 205 unit, jaring arad 746 unit. Jumlah alat
tangkap yang berada di kawasan Kabupaten Kendal pada tahun 2011 dapat dilihat
pada tabel 2.
Tabel 2. Jumlah alat
tangkap yang digunakan di Kabupaten Kendal pada tahun 2011
|
No.
|
Alat Tangkap
|
Tawang
|
Bandengan
|
Sikucing
|
Tanggul malang
|
|
1
|
Arad
|
746
|
25
|
25
|
0
|
|
2
|
Gill
net
|
157
|
71
|
46
|
2
|
|
3
|
Dogol
|
205
|
156
|
193
|
31
|
|
4
|
Payang
|
49
|
0
|
35
|
0
|
|
5
|
Cantrang
|
42
|
0
|
0
|
0
|
|
6
|
Mini
purseine
|
12
|
6
|
58
|
0
|
|
Jumlah
|
1211
|
258
|
357
|
33
|
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan, 2011
Pada tabel 2. Jumlah alat tangkap yang
banyak digunakan nelayan di daerah PPP
Tawang adalah alat tangkap alat tangkap jaring arad hal ini karena operasi
penangkapan jaring arad yang tidak mengenal musim. Sedangkan untuk alat tangkap
payang dan cantrang memiliki jumlah yang hampir sama berada di urutan ke empat
dan ke lima dengan selisih yang jauh dibandingkan jumlah jaring udang, arad, gill net, dan dogol.
Lokasi yang digunakan untuk penelitian
adalah Pelabuhan
Perikanan Pantai (PPP) Tawang,
khususnya di Tempat Pelelangan Ikan Tawang, desa Gempolsewu, Kecamatan
Rowosari, Kabupaten Kendal. Alasan dipilih lokasi tersebut karena dari ke empat
TPI yang di kelola oleh PPP Tawang, hanya di TPI Tawang yang terdapat alat
tangkap cantrang dan payang yang digunakan untuk judul penelitian ini.
Kependudukan
Data statistik desa 2011 mencatat jumlah
penduduk di Desa Gempolsewu sebanyak 12.596 jiwa dengan 3.776 kepala keluarga.
Mata pencaharian penduduk sebagian besar (95,45%) pada sektor pertanian,
selebihnya bekerja di sektor perdagangan dan jasa. Jumlah
nelayan di Tawang 5.603 orang, atau 51,32% dari seluruh nelayan yang ada di
Kabupaten Kendal, yang terdiri dari 862 orang nelayan juragan (15,38%) dan
4.741 orang nelayan pendega (84,62%). (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2011).
Aspek Teknis Alat Tangkap
Alat Tangkap Payang
Payang adalah
pukat kantong yang digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan, dimana kedua
sayapnya berguna untuk menakut-nakuti atau mengejutkan serta menggiring ikan
supaya masuk ke dalam kantong (Subani dan Barus, 1989).
Alat tangkap payang yang
digunakan oleh nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang adalah payang ampera.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, konstruksi jaring payang memiliki
panjang jaring keseluruhan antara 180-250 m. Secara umum payang memiliki
bagian-bagian antara lain:
1. Bagian jaring, terdiri
atas beberapa bagian, yaitu:
- Sayap, terbuat dari dari nylon multifilament dengan ukuran mata jaring 8 inchi.
- Body, terbuat dari bahan nylon multifilament dengan ukuran mata jaring mulai 4 inchi.
- Kantong, terbuat dari waring dengan ukuran mata jaring 2 mm.
2. Pemberat
Jumlah pemberat
20–30 buah. Bahan pemberat dari batu, dengan ukuran panjang antar pemberat 10-15 m dan berat tiap pemberat
200 gr.
3. Pelampung
Pelampung yang digunakan
sekitar 100-200 buah, tergantung ukuran payang dan jarak antar pelampung 23- 30
cm serta pelampung ini terbuat dari gabus plastik. Pelampung yang digunakan
terdiri dari pelampung besar yang terbuat dari sterofom dan pelampung kecil terbuat dari plastik.
4. Tali
Tali yang terdapat pada
payang terdiri dari tali ris atas, tali ris bawah, tali pelampung dan tali
pemberat. Bahan yang digunakan adalah polyethylene.
Panjang tali yang digunakan untuk menarik adalah 50 m.
Cara pengoperasian alat tangkap payang
Langkah-langkah
pengoperasian alat tangkap payang ini adalah sebagai berikut:
a. Persiapan
Persiapan dilakukan di
darat dan di atas kapal. Persiapan yang dilakukan di darat antara lain
persiapan BBM, perbekalan melaut, es batu. Sedangkan persiapan yang dilakukan
di kapal adalah persiapan alat tangkap.
b. Penurunan jaring (setting)
Satu orang nelayan turun
ke laut membawa salah satu tali penarik, sedangkan tali penarik yang lain tetap
di kapal. Kapal dijalankan pelan-pelan sambil menurunkan jaring. Ujung tali yang tadi
dikaitkan di buritan kapal, kemudian dilepaskan dan dibawa ke haluan kapal.
c. Hauling
Penarikan jaring dimulai dengan
menarik jaring dari arah haluan. Penarikan jaring dilakukan dengan kecepatan
penuh agar bagian bawah jaring membentuk kantong dan ikan tidak meloloskan
diri. Unit
penagkapan ikan dengan alat tangkap payang menggunakan tenaga kerja (ABK)
sebanyak 12 orang. Tenaga kerja (ABK) tersebut terdiri dari 11 orang ABK biasa
dan 1 orang juru mudi (nahkoda).
Hasil
tangkapan alat tangkap payang
Alat tangkap payang
merupakan jenis alat tangkap penangkap ikan-ikan pelagis yang hidup pada permukaan
perairan. Hasil tangkapan yang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap payang
umumnya merupakan jenis ikan konsumsi tinggi seperti ikan Tongkol (Euthynnus allecterates),
Teri (Stolephorus commersonil),
Kembung (Rastrelliger
brachysoma), dan yang lain.
Alat tangkap
cantrang
Cantrang adalah alat tangkap jenis pukat
kantong yang memiliki sayap yang sama panjangnya, posisi yang sama antara mulut
bagian atas dan bagian bawah. Sedangkan dari bentuknya alat tangkap tersebut
menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari daerah
penangkapannya sama seperti trawl
yaitu untuk menangkap sumberdaya ikan demersal terutama ikan dan udang (Subani dan Barus, 1989).
Konstruksi alat tangkap
cantrang di TPI Tawang terdiri dari tiga bagian, yaitu sayap (wing), badan (body), dan kantong (code end) serta cantrang dilengkapi oleh tali
selambar yang sangat panjang. Bagian-bagian cantrang tersebut adalah:
1. Sayap (wing)
berfungsi untuk menghalau ikan agar masuk ke dalam kantong. Bahan dan Mesh size : PE dan 6–8 inchi
2. Badan (body) berfungsi untuk mengkonsentrasikan ikan menuju ke kantong. Bahan dan Mesh size : PE dan 6–8 inchi
3. Kantong (code end)
berfungsi untuk menampung hasil tangkapan. Bahan dan Mesh size : PE dan 1 inchi
Cara pengoperasian jaring
cantrang
a. Persiapan
Operasi penangkapan jaring cantrang
dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai
mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap,
mengikat tali selambar dengan sayap jaring.
b. Setting
Setting
dimulai dengan penurunan
pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan tali selambar pada
saat akan dilakukan hauling. Pada
saat melakukan setting kapal bergerak
melingkar menuju pelampung tanda.
c. Hauling
Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan
agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat
jaring. Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan
bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam
kantong jaring.
Hasil tangkapan alat tangkap cantrang
Hasil tangkapan cantrang kebanyakan adalah ikan-ikan demersal yang hidupnya didekat
perairan dasar yang tidak terlalu dalam seperti ikan Cumi-cumi (Loligo sp), Petek
(Leiognathus tauvina), Layur (Trichiurus savala), Bawal
hitam (Formio niger), Kuniran
(Upeneus sulphureus), dan yang lain.
Aspek Finansial
Aspek finansial dalam usaha perikanan
menggunakan jaring payang dan cantrang
meliputi beberapa aspek yaitu modal usaha, pendapatan, pengeluaran dan
keuntungan.
Modal
Modal merupakan faktor penting untuk
memulai suatu usaha, dalam penelitian ini adalah usaha perikanan menggunakan
jaring payang dan cantrang. Modal yang diperlukan dalam usaha perikanan dengan
menggunakan jaring payang dan cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang adalah kapal, mesin, alat tangkap
dan alat bantu penangkapan serta peralatan lain yang dapat mendukung kelancaran
usaha penangkapan, seperti yang dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Modal rata-rata
usaha perikanan jaring payang dan cantrang
|
Modal
|
Jenis jaring
|
|
|
Jaring payang (Rp)
|
Jaring cantrang (Rp)
|
|
|
Kapal
|
26.566.667
|
43.666.667
|
|
Mesin
|
8.616.667
|
12.033.333
|
|
Alat tangkap
|
4.600.000
|
2.383.333
|
|
Alat bantu
|
-
|
3.350.000
|
|
Total
|
39.783.333
|
61.633.333
|
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Modal rata-rata usaha perikanan jaring
payang dan jaring cantrang adalah Rp 39.783.333
dan Rp 61.633.333. Dari tabel tersebut terlihat bahwa modal
yang dibutuhkan nelayan cantrang lebih besar daripada modal yang dibutuhkan
nelayan payang. Modal yang dikeluarkan untuk usaha jaring cantrang lebih besar
karena jaring cantrang menggunakan alat bantu penangkapan dalam hal ini adalah
gardan.
Biaya
Biaya total pada usaha perikanan dibedakan
menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed
cost) dan biaya tidak tetap (variable
cost). Biaya tetap meliputi biaya penyusutan dan biaya perawatan, sedangkan
biaya tidak tetap meliputi biaya operasional dan biaya tenaga kerja. Biaya
operasional yang dikeluarkan oleh nelayan jaring payang dan cantrang adalah
biaya unuk membeli BBM dan perbekalan.
A. Biaya
tetap
Biaya tetap dalam usaha penangkapan dengan
alat tangkap payang dan cantrang di perairan Kendal khususnya di Tawang terdiri
dari biaya penyusutan dan biaya perawatan. Biaya tetap yang dikeluarkan nelayan
jaring payang dan nelayan jaring cantrang dapat dilihat dengan menjumlahkan
biaya penyusutan dan biaya perawatan. Biaya tetap rata-rata dapat dilihat pada
tabel 4.
Tabel 4. Biaya tetap
rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
|
Jenis Biaya
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang
|
Cantrang
|
|
|
Biaya penyusutan
|
5.405.006
|
8.788.056
|
|
Biaya perawatan
|
4.126.410
|
5.807.692
|
|
Lelang
|
3.295.050
|
4.652.500
|
|
Biaya tetap
|
12.826.466
|
19.248.248
|
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Biaya tetap rata-rata yang dikeluarkan
nelayan jaring cantrang lebih besar daripada biaya rata-rata yang dikeluarkan
nelayan jaring payang karena biaya rata-rata penyusutan dan perawatan jaring
cantang lebih besar dibanding biaya rata-rata penyusutan dan perawatan jaring
payang sehingga berpengaruh pada biaya tetapnya. Biaya tetap rata-rata jaring
payang sebesar Rp 12.826.466 sedangkan biaya tetap rata-rata yang
dikeluarkan nelayan jaring cantrang sebesar Rp 19.248.248.
B. Biaya
tidak tetap
Biaya tidak tetap/berubah adalah biaya yang
dalam periode tertentu jumlahnya dapat berubah, tergantung pada tingkat
produksi yang dihasilkan. Dalam hal ini yang berubah adalah biaya totalnya,
sedangkan biaya persatuannya adalah tetap misalnya biaya bahan baku dan biaya
buruh pembantu (Sutawi, 2002).
Dalam usaha penangkapan ikan dengan
menggunakan jaring payang dan jaring cantrang di Tawang, yang termasuk biaya
tidak tetap meliputi biaya perbekalan, dan biaya untuk BBM. Biaya tidak tetap
rata-rata yang dikeluarkan nelayan jaring payang dan jaring cantrang dapat
dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Biaya tidak tetap
rata-rata jaring payang dan cantrang
|
Jenis Biaya
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang
|
Cantrang
|
|
|
Biaya perbekalan
|
26.425.385
|
13.774.359
|
|
Biaya BBM
|
27.720.000
|
27.000.000
|
|
Biaya tidak tetap
|
54.145.385
|
40.774.359
|
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Biaya tidak tetap rata-rata untuk jaring
payang adalah Rp 54.145.385 dan untuk
jaring cantrang sebesar Rp 40.774.359.
Hal ini disebabkan karena perbedaan jumlah perbekalan payang yang lebih besar.
Perbekalan yang besar disebabkan karena jumlah ABK pada kapal dengan alat
tangkap payang yang lebih banyak dibandingkan jumlah ABK kapal dengan alat
tangkap jaring cantrang.
C.
Biaya
total
Biaya total adalah keseluruhan biaya
dari suatu unit usaha. Biaya total dalam usaha penangkapan jaring payang dan
jaring cantrang didapatkan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap.
Biaya total yang dikeluarkan nelayan jaring payang dan nelayan jaring cantrang
dapat dilihat dari Tabel 6.
Tabel 6. Biaya total
rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
|
Jenis biaya
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang
|
Cantrang
|
|
|
Biaya tetap
|
12.826.466
|
19.248.248
|
|
Biaya tidak tetap
|
54.145.385
|
40.774.359
|
|
Biaya total
|
61.566.845
|
51.234.551
|
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Biaya total rata-rata yang dikeluarkan
nelayan jaring payang lebih banyak dibanding nelayan jaring cantrang. Hal ini
disebabkan biaya tidak tetap yang dikeluarkan usaha jaring payang lebih banyak
dibandingkan biaya tidak tetap yang dikeluarkan usaha jaring cantrang. Biaya
total yang dikeluarkan nelayan jaring payang sebesar Rp 61.566.845 sedangkan untuk nelayan jaring cantrang sebesar Rp 51.234.551.
Pendapatan
Pendapatan pada usaha penangkapan ikan
adalah nilai jual dari hasil tangkapan setelah operasi penangkapan selesai
dilakukan. Nilai pendapatan tergantung dari jenis dan berat total ikan yang
tertangkap dan di jual. Total pendapatan yang diperoleh pada usaha penangkapan
ikan menggunakan alat tangkap payang dan cantrang dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Pendapatan
rata-rata usaha jaring payang dan cantrang
|
Uraian
|
Nilai
|
|
|
Payang (Rp/th)
|
Cantang (Rp/th)
|
|
|
Musim Puncak
|
47.256.000
|
79.350.000
|
|
Musim Biasa
|
84.546.000
|
106.750.000
|
|
Pendapatan per tahun
|
131.802.000
|
186.100.000
|
Sumber : Hasil penelitian, 2012.
Pendapatan dari kedua alat tangkap tersebut
apabila dilihat dari pendapatan total per tahun akan terlihat bahwa pendapatan
jaring cantrang lebih besar dibandingkan pendapatan jarring payang, hal ini
karena hasil tangkapan jaring payang lebih banyak dan memiliki nilai ekonomis
tinggi dibandingkan hasil tangkapan jaring cantrang.
Keuntungan
Dalam keuntungan yang telah
dilakukan sebelumnya terlihat nilai-nilai yang dibutuhkan untuk terjaminnya
keberlangsungan atau keberlanjutan perikanan tangkap secara ekonomi (Nababan B.
O, Yesi D. S. dan M Hermawan, 2008).
Keuntungan diperoleh dari total pendapatan
yang diperoleh dikurangi dengan total pengeluaran. Nelayan akan menekan biaya
perbekalan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Keuntungan nelayan
jaring payang dan jaring cantrang dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Keuntungan
rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
|
Uraian
|
Jenis jarring
|
|
|
Payang
|
Cantrang
|
|
|
Pendapatan
|
131.802.000
|
186.100.000
|
|
Biaya total
|
61.566.845
|
51.234.551
|
|
Keuntungan
|
70.235.155
|
134.865.449
|
Sumber : Hasil Penelitian, 2012
Berdasarkan tabel 8 di atas dapat dilihat
bahwa keuntungan per tahun usaha penangkapan ikan dengan menggunakan jaring
cantrang lebih besar dibandingkan usaha penangkapan ikan dengan jaring payang.
Keuntungan rata-rata pada usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap payang
sebesar Rp 70.235.155, dan keuntungan
pada usaha penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap cantrang sebesar Rp
134.865.449. Pendapatan rata-rata nelayan dapat
dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Pendapatan
rata-rata nelayan dengan alat
tangkap payang dan cantrang
|
Uraian
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang (Rp/th)
|
Cantrang (Rp/th)
|
|
|
Pendapatan
|
131.802.000
|
186.100.000
|
|
Biaya total
|
61.566.845
|
51.234.551
|
|
Keuntungan
|
70.235.155
|
134.865.449
|
|
Juragan
|
28.094.062
|
53.946.180
|
|
Nahkoda
|
7.023.515
|
23.119.791
|
|
ABK
|
3.511.758
|
11.559.896
|
Sumber : Penelitian, 2012
Berdasarkan tabel 9 dapat dilihat bahwa
pendapatan nelayan cantrang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan nelayan
payang. Pendapatan untuk nakkoda dan ABK nelayan payang sebesar Rp 7.023.515 dan Rp 3.511.758. Sedangkan pendapatan per tahun untuk nakkoda dan ABK nelayan
cantrang sebesar Rp 23.119.791 dan Rp 11.559.896.
Analisis
Undiscounted criteria
Analisis yang digunakan adalah analisis R/C
ratio, rentabilitas, dan (payback period)
Analisis
R/C Ratio
Perhitungan tingkat keuntungan dari jaring
payang dan jaring cantrang di gunakan R/C ratio untuk mengetahui perbandingan
antara penerimaan dan total pengeluaran. R/C ratio jaring payang dan cantrang dapat
dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. R/C ratio
rata-rata usaha perikanan jaring payang dan jaring cantrang
|
Uraian
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang (Rp/th)
|
Cantrang (Rp/th)
|
|
|
Pendapatan
|
131.802.000
|
186.1000.000
|
|
Biaya total
|
61.566.845
|
51.234.551
|
|
R/C
|
2,14
|
3,63
|
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Tabel 10 menunjukan nilai R/C ratio untuk
kedua usaha perikanan lebih dari 1, berarti bahwa kedua usaha perikanan
tersebut efisien dijalankan. Nilai R/C jaring cantrang lebih besar, berarti
bahwa usaha perikanan jaring cantrang lebih efisien daripada usaha perikanan
jaring payang. Nilai R/C didapatkan untuk jaring payang sebesar 2,14 sedangkan R/C untuk jaring
cantrang sebesar 3,63.
Analisis
rentabilitas
Perhitungan rentabilitas merupakan
perbandingan antara keuntungan (pendapatan bersih) selama periode tertentu
dengan modal yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut.
Rentabilitas usaha perikanan payang dan usaha perikanan cantrang dapat dilihat
pada tabel 11.
Tabel 11. Rentabilitas
rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
|
Uraian
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang (Rp/th)
|
Cantrang (Rp/th)
|
|
|
Keuntungan
|
70.235.155
|
134.865.449
|
|
Biaya total
|
61.566.845
|
51.234.551
|
|
Rentabilitas (%)
|
1,14
|
2,63
|
Sumber: Hasil
Penelitian, 2012
Menurut Riyanto (1995), nilai rentabilitas
di atas 25% menunjukan bahwa usaha tersebut bekerja pada kondisi efisien dan
sebaliknya. Dari perhitungan rentabililitas usaha perikanan jaring payang dan
usaha perikanan jaring cantrang diperoleh rata-rata rentabilitas untuk
masing-masing usaha adalah 114% dan 263% yang berarti bahwa nilai tersebut >25% sehingga
usaha tersebut dapat dikatakan efisien.
Analisis payback
period
Perhitungan payback period modal
diperlukan untuk mengetahui periode waktu pengembalian investasi sehingga dapat
menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang ditanam pada
suatu usaha dapat diperoleh kembali seluruhnya (Tajerin, Manadiyanto dan Sapto
A. P, 2003).
Analisis payback
period digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk
menutupi modal investasi dalam hitungan tahun atau bulan, jika seluruh
pendapatan usaha yang dihasilkan digunakan untuk menutupi modal investasi
(Umar, 2003). Payback period pada
usaha perikanan dengan jaring payang dan usaha perikanan dengan jaring cantrang
dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Payback period rata-rata usaha jaring
payang dan cantrang
|
Modal
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang (Rp/th)
|
Cantrang (Rp/th)
|
|
|
Investasi
|
39.783.333
|
61.633.333
|
|
Keuntungan
|
70.235.155
|
134.865.449
|
|
PP
|
1,76
|
2,19
|
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Pada usaha perikanan jaring payang dan
usaha perikanan jaring cantrang diperoleh nilai payback period untuk jaring payang 1,76
tahun atau 21 bulan 12 hari dan untuk jaring cantrang 2,19 tahun atau 26 bulan
7 hari. Pengembalian modal untuk kedua alat tangkap berarti cepat karena kurang
dari 3 tahun. Pengembalian modal untuk jaring payang lebih cepat daripada
pengembalian modal jaring cantrang. Hal ini disebabkan karena keuntungan yang
diperoleh nelayan jaring payang lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh
nelayan jaring cantrang dan modal investasi untuk usaha jaring cantrang lebih
besar dibandingkan usaha jaring payang.
Analisis Discounted Criteria
Kegiatan
usaha merupakan kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu
bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan manfaatnya.
Sumber-sumber tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai
barang-barang konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk
memperoleh manfaat. Analisis Kriteria investasi dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Analisis kriteria
investasi usaha jaring payang dan cantrang
|
Modal
|
Jenis jaring
|
|
|
Payang (Rp/th)
|
Cantrang (Rp/th)
|
|
|
NPV
|
60.556.447
|
92.934.560
|
|
IRR
|
33%
|
36%
|
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Pada penelitian ini digunakan discount rate 16% sesuai dengan tingkat
bunga bank Indonesa. Dari discount rate
16% didapatkan nila NPV untuk jaring payang sebesar Rp 60.556.447 dan untuk jaring cantrang
sebesar 92.934.560.
Analisis Statistik
Tabel 14. Uji T pendapatan nelayan payang dan cantrang
|
|
N
|
Mean
|
Std. Deviation
|
Std. Error Mean
|
||||||||||||
|
Payang
|
15
|
9229644.40
|
457856.407
|
118218.016
|
||||||||||||
|
Cantrang
|
15
|
8930400.00
|
422270.427
|
109029.756
|
||||||||||||
|
Payang
|
15
|
13313047.60
|
401842.078
|
103755.179
|
||||||||||||
|
Cantrang
|
15
|
13241476.20
|
613835.334
|
158491.602
|
||||||||||||
|
Pendapatan ABK
Independent Samples Test
| ||||||||||||||||
Dari hasil perhitungan dengan SPSS
menggunakan UJI t-test didapatkan nilai t hitung perbedaan pendapatan ABK untuk
nelayan payang sebesar 1,861 lebih kecil dari t table ( +1,999) dan
nilai sig sebesar 0,073 lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima. Artinya tidak
ada perbedaan pendapatan ABK nelayan payang. Dari hasil perhitungan dengan SPSS
menggunakan UJI t-test didapatkan nilai t hitung perbedaan pendapatan ABK
nelayan cantrang sebesar 0,378 lebih kecil dari t tabel (+1,999) dan
nilai sig sebesar 0,257 lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendapatan
ABK nelayan payang dan pendapatan ABK nelayan cantrang tidak ada perbedaan atau
rata-ratanya sama, hal ini dapat terlihat pada pendapatan ABK nelayan cantrang
sebesar Rp 3.511.758 per tahun, untuk rata-rata pendapatan ABK
nelayan payang sebesar Rp 11.559.806 per tahun.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pendapatan
rata-rata nelayan ABK payang
di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang per trip sebesar Rp 15.963. Sedangkan
pendapatan rata-rata nelayan ABK cantrang
di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang per hari sebesar Rp 57.799;
2. Dari
hasil analisis keuntungan diperoleh kedua usaha di atas masih layak dijalankan karena NPV bernilai positif. Nilai IRR untuk
jaring payang sebesar
33% dan untuk jaring cantrang
sebesar 36%. Dari kedua analisis kedua
usaha penangkapan masih menghasilkan keuntungan dan masih layak untuk dijalankan;
3. Pendapatan
nelayan jaring cantrang dan payang tidak ada perbedaan pendapatan, hal ini
dapat terlihat pada pendapatan ABK payang untuk t hitung dari usaha payang
sebesar 1,861 dan t hitung ABK cantrang sebesar 0,378 yang lebih kecil dari t
tabel sebesar + 1,999. Dapat dilihat dari rata-rata pendapatan ABK nelayan jaring cantrang sebesar Rp 3.511.758, untuk rata-rata pendapatan ABK nelayan payang sebesar Rp 11.559.896.
Saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan yang
didapatkan pada penelitian tesebut di atas, maka saran yang dapat diberikan
adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan
kebijakan pemerintah daerah untuk lebih memeratakan kesejahteraan khususnya
masyarakat nelayan; dan
2. Perlu adanya aturan teknis pelaksanaan yang
baku dengan dasar hukum yang kuat mengenai sistem bagi hasil dengan
mempertimbangkan segala aspek dan kondisi yang ada agar semua pihak yang
terlibat pada usaha penangkapan di daerah tersebut tahu mengenai hak dan
kewajibannya sehingga akan tercipta suatu sistem pembagian produksi secara adil
bagi kepentingan semua pihak
Dahlan, M. N. 2011. Pembangunan Perikanan Tangkap di Kabupaten
Belitung: Suatu Analisis Trade-Off Ekonomi Berbasis Lokal. [Disertasi].
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 257 hlm.
Departemen
Kelautan dan Perikanan; Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
2006. Pedoman Umum Nilai Tukar Nelayan.
Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Departemen Kelautan dan
Perikanan, Jakarta.
18 hlm.
Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kendal. 2011. Perikanan Dalam Angka Kabupaten Kendal Tahun 2011.
Firdaus, M.
2007. Manajemen Agribisnis.
BumiAksara, Jakarta, 51 hlm.
Hendratmoko, C dan H. Marsudi. 2010. Analisis Tingkat
Keberdayaan Sosial Ekonomi Nelayan Tangkap di Kabupaten Cilacap. Dinamika
Sosial Ekonomi 6 (1) edisi Mei.
Kuswadi.
2007. Analisis Keekonomian Proyek.
Penerbit Andi. Yogyakarta. 121 hlm.
Murdjijo, F.
X. 2001. Pengembangan Sumberdaya
Kelautan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 352 hlm.
Nababan, B. O, Yesi D. S, dan M. Hermawan. 2008. Tinjauan Aspek Ekonomi Keberlanjutan Perikanan Tangkap Skala Kecil di Kabupaten
Tegal Jawa Tengah.Buletin Ekonomi Perikanan 8 (2):
50-68.
Pratama
A. F. 2012. Analisis Kelayakan
Finansial Usaha Penangkapan Ikan Menggunakan Panah Dan Bubu Dasar Di Periran
Karimunjawa. Universitas Diponegoro, Semarang Journal of
Fisheries Resources Utilization Management and Technology Volume 1 Hlm 22-31 (http://ejournal-s1.undip.ac.id)
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi, dengan Pokok Bahasan
Analisis. U-Press.
Jakarta.
.
Subani, W dan H. R.
Barus.1989. Alat Penangkap Ikan dan Udang
Laut di Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Sugiyono.
2002. Statistika Untuk Penelitian. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Sutawi.
2002. Manajemen Agrobisnis. Bayu Media dan UMM Press.Malang, 277 hlm.
Sutrisno.
1982. Pengantar Studi Kelayakan Suatu
Proyek. BPFE. Yogyakarta.
Tajerin, M,
dan S. A. Pranowo. 2003. Analisis
Profitabilitas dan Distribusi Pendapatan Usaha
Penangkapan Ikan Menggunakan Pukat Cincin Mini di kabupaten Tuban, Jawa Timur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 9 (6):23-34.
Umar, H.
2003. Studi Kelayakan dalam Bisnis Jasa.
PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, 168 hlm.
Winardi. 1990.
Politik Ekonomi. Tarsito, Bandu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar