Minggu, 14 Juni 2015

PERBEDAAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN DAN TINGKAT KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP PAYANG DAN CANTRANG DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TAWANG KABUPATEN KENDAL

                                       Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
                                                             Volume 3, Nomor 2, Tahun 2013, Hlm 1-10
                                              Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

PERBEDAAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN DAN TINGKAT KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP PAYANG DAN CANTRANG DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TAWANG KABUPATEN KENDAL

Income Level Differences Fisherman and The Financial Feasibility of Fishing Industries Payang and Cantrang in Coastal Fishing Port Tawang Kendal

Teguh Lestariono*), Abdul Rosyid dan Dian Wijayanto
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedartho, Tembalang (email: teguhlestariono@yahoo.com)

ABSTRAK

Kabupaten Kendal memiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang yang terletak di Desa Gempolsari kecamatan Rowosari. PPP Tawang tersebut membawahi 4 TPI, yaitu TPI Tawang, TPI Sendang Sikucing, TPI Tanggul Malang dan TPI Bandengan. TPI Tawang merupakan TPI terbesar yang ada di kabupaten Kendal dengan jumlah produksi pada tahun 2011 sebesar 1.530,8 ton. Alat tangkap payang dan cantrang berjumlah hampir sama. Jumlah alat tangkap payang pada tahun 2011 tercatat adalah 49 unit dan alat tangkap cantrang sebanyak 42 unit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pendapatan nelayan serta menganalisis tingkat kelayakan usaha alat tangkap payang dan cantrang, yang dilaksanakan pada bulan september–oktober 2012 di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang Kabupaten Kendal. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode snowball sampling dengan menentukan satu atau dua orang sebagai sampel dan selanjutnya menunjukkan orang lain yang bisa dijadikan sampel. Analisis data menggunakan uji parsial t (t test) dengan SPSS 17.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pendapatan per ABK nelayan dengan alat tangkap cantrang lebih besar dari pendapatan ABK nelayan dengan alat tangkap payang yaitu pendapatan per ABK nelayan dengan alat tangkap cantrang sebesar Rp 51.072 /trip dan payang sebesar Rp 34.922 /trip dan menunjukan bahwa kedua usaha alat tangkap tersebut layak untuk dijalankan, karena nilai NPV kedua usaha tersebut bernilai positif dengan didapatkan NPV untuk jaring payang sebesar Rp 1.009.616.526 dan untuk NPV jaring cantrang sebesar Rp 856.936.337. Didapatkan juga nilai IRR untuk jaring payang sebesar 494% dan IRR untuk jaring cantrang sebesar 390%. Hal ini membuktikan bahwa kedua usaha penangkapan masih menghasilkan keuntungan dan layak untuk dijalankan.

Kata kunci: Cantrang; Payang; Pendapatan; Keuntungan; Kelayakan usaha.

ABSTRACT

Kendal has Tawang Coastal Fishing Port which is located in the village of Gempolsari in district Rowosari. The PPP Tawang supervise 4 TPI, the TPI Tawang, Spring Sikucing TPI, TPI Tanggul Malang and TPI Bandengan. Tawang TPI is the biggest TPI Kendal with a total production in 2011 amounted to 1530.8 tonnes. Cantrang and payang gear have almost the same amount. The number of payang fishing gear recorded in 2011 was 49 units and cantrang gear as many as 42 units. The purpose of this study was to determine the income of fishermen and analyzed the feasibility cantrang and payang gear, which was conducted in September-October 2012 in the Coastal Fishing Port Kendal. The research method used in this study is the snowball sampling method to determine the one or two people as the sample and then show others that can be sampled. Analysis of data using partial t test (t test) with SPSS 17.0. The results showed that the average level of income per crew fishing with cantrang gear is greater than the income of fishermen with crew fishing with payang gear is income per crew fishing with cantrang gear is Rp 51,072 / trip and payang is Rp 34,922 / trip and showed that both businesses gear is feasible to run, because the NPV of both the business is positive with the NPV obtained for net payang Rp 1,009,616,526 and net cantrang to NPV of Rp 856,936,337. Available also for a net IRR of 494% payang and IRR for cantrang net amounted to 390%. This proves that both fishing effort and still make a decent profit to run.

Key words: Cantrang; Payang; Revenue; Profit; Financial Feasibility.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki lautan yang luas dengan sumberdaya perikanan yang cukup tinggi. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, wilayah Indonesia terdiri dari sepertiga dan dua pertiga perairan lautan (samudera) dengan wilayah daratan mencakup 17508 pulau dibatasi oleh garis pantai sepanjang 81.000 km. Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta km, merupakan suatu zona yang dapat dimanfaatkan dan dikelola potensi sumberdaya alamnya (Murdjijo F. X, 2001).
       Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah (2011), jumlah produksi perikanan di Provinsi Jawa Tengah adalah 195.635,7 ton dengan nilai produksi Rp 1.103.715.212.000,00. Jumlah produksi ini terdiri dari jumlah produksi tiap kabupaten. Menurut banyaknya jumlah produksi perikanan, Kabupaten Rembang menduduki peringkat pertama dengan total jumlah produksi 40.449,1 ton atau 20,7% dan nilai produksi Rp 205.461.298.000,00. Sedangkan Kabupaten Kendal menduduki peringkat 13 dengan jumlah produksi sebesar 1.530,8 ton atau 0,8% dengan nilai produksi sebesar Rp 8.953.392.000,00.
      Sebagian besar masyarakat sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang bermata pencaharian utama adalah sebagai nelayan. Jumlah usaha perikanan jaring cantrang dan payang di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang mengalami penurunan jumlah unit alat tangkap. Dari jumlah seluruh alat tangkap yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang, jaring cantrang dan payang sering mengalami penurunan jumlah unit alat tangkap setiap tahunnya. Jumlah alat tangkap yang beroperasi di wilayah pada tahun 2007 jumlah alat tangkap payang sebanyak 57 unit, dan cantrang sebanyak 45 unit. Sedangkan pada tahun 2011 jumlah alat tangkap payang sebanyak 49 unit, dan cantrang sebanyak 42 unit. Hal ini membuktikan tidak ada perubahan jumlah yang signifikan antara kedua alat tangkap tersebut. Namun, bagaimana dengan perbandingan tingkat pendapatan nelayan dari masing-masing usaha penangkapan.
Alat tangkap yang digunakan sebagai objek penelitian adalah alat tangkap payang dan alat tangkap cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang, Kendal. Pendapatan masing-masing nelayan payang dan cantrang di PPP Tawang  pada umumnya sangat tergantung dari jumlah hasil tangkapan, dimana tingkat pendapatan nelayan satu dengan yang lain berbeda berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan.

Pendekatan Masalah 
        Secara umum kondisi perikanan di Kabupaten Kendal belum maju, terlihat dari kesejahteraan masyarakat terutama di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang. Terbukti dari beberapa TPI di Kabupaten Kendal, produksi perikanan tangkap di TPI Tawang paling besar, yaitu  526.706 ton. Sedangkan jumlah produksi terbanyak kedua setelah TPI Tawang adalah TPI Sendang Sekucing yang ada di TPI Sendang Sikucing, yaitu sebesar 291.916 ton. Posisi ketiga adalah TPI Tanggul Malang dengan jumlah produksi 133.769 ton dan yang terakhir adalah TPI Bandengan, yaitu sebesar 95.480 ton (DKP Jateng, 2006).
Penelitian ini merupakan penelitian sangat penting, karena dapat memberikan masukan kepada masyarakat nelayan di sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang mengenai produktivitas serta faktor-faktor produktivitas yang dapat meningkatkan produktivitas alat tangkap tersebut. Selain itu juga dapat membandingkan antara keuntungan dari usaha perikanan cantrang dan payang juga membandingkan besarnya pendapatan ABK nelayan cantrang dan payang, mengingat jumlah jaring payang lebih banyak dibandingkan cantrang.
Tingkat pendapatan dari sistem bagi hasil yang diterapkan pada unit perikanan cantrang dan payang akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga nelayan ABK cantrang dan payang.

Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pendapatan rata-rata ABK nelayan payang dan ABK cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang Kabupaten Kendal;
2. Menganalisis aspek finansial usaha jaring payang dan cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang Kabupaten Kendal dengan pendekatan NPV, IRR, R/C ratio, payback period, dan rentabilitas;
3.   Mengetahui signifikasi perbedaan pendapatan usaha perikanan dengan jaring payang dan cantrang.

METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan metode survei, metode survei adalah salah satu bagian dari metode diskriptif. Metode survei merupakan metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian. Metode survei sendiri diartikan sebagai metode yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh fakta yang ada dan mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok atau daerah. Kelompok yang diambil sebagai obyek pengkajian adalah nelayan dengan alat tangkap jaring payang dan cantrang.

Metode pengambilan sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah snowball sampling atau sampel bola salju. Cara pengambilan sampel ini digunakan karena jumlah populasi dari objek yang diamati tidak diketahui. Proses pengambilan sampel yang dilakukan adalah dengan menentukan satu atau dua orang dijadikan sebagai sampel. Tahap berikutnya adalah dengan menanyakan kepada sampel pertama untuk menunjukkan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel (Pratama A. F, 2012).
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlah kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Penentuan jumlah sampel dibatasi sebanyak 30 responden pada setiap alat tangkap yang diamati. Jumlah ukuran sampel sebaiknya minimum 30 sampel agar dapat diperoleh data yang homogen (Sugiyono, 2002).

Analisis Data
Analisis pendapatan

a.     Pengeluaran
       Menurut Soekartawi (1995) analisis pengeluaran adalah besaran yang mengukur total pengeluaran yang digunakan untuk penangkapan baik untuk perbekalan, perawatan, dan lain-lain.
   
     b.     Pendapatan
        Analisis pendapatan adalah besaran yang mengukur jumlah pendapatan nelayan yang diperoleh dari hasil tangkapan, menghitung pendapatan nelayan dapat digunakan formulasi rumus sebagai berikut:
       TR= Q X P
Dimana:
TR= Total pendapatan
Q  = Hasil tangkapan
P   = Harga jual

c.     Keuntungan
Analisis keuntungan adalah hasil selisih antara pendapatan total dengan biaya total yang digunakan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Pendapatan bagi pengusaha adalah sisa setelah jumlah pendapatan dikurangi dengan seluruh biaya produksi. Dapat dirumuskan sebagai berikut:
P =TR-TC
Dimana:
P   = Keuntungan
TR = Total pendapatan
TC = Total pengeluaran

Analisa finansial
Usaha perikanan jaring payang dan jaring cantrang merupakan usaha perikanan yang tidak membutuhkan modal terlalu besar sehingga digunakan kriteria undiscounted. Kriteria undiscounted meliputi analisis rasio penerimaan dan biaya (R/C), analisis rentabilitas, analisis payback period.
1.     Analisis R/C ratio
Menurut Sutrisno (1982), R/C ratio dinyatakan dengan rumus :
R/C=  TR/TC
Dimana :
TR = total penerimaan
TC = total biaya

2.     Analisis payback period
Menurut Firdaus M (2007), payback period dinyatakan dengan rumus :
payback period =   Modal          x 1 tahun
                          Keuntungan 

3.     Analisis Rentabilitas
Menurut Riyanto (2001), Internal rate of return (IRR) dinyatakan dengan rumus :
Rentabilitas = Keuntungan     X 100%
                          Modal 
Nilai rentabilitas  diatas 25% menunjukan bahwa usaha tersebut bekerja pada kondisi efisien dan sebaliknya bila sama dengan atau dibawah 25% maka usaha tersebut tidak bekerja pada kondisi efisien (Riyanto, 2001).

Menurut Dahlan (2011), untuk menganalisis kriteria investasi biasanya digunakan analisis NPV, dan IRR
1. NPV
Net present value (NPV) dinyatakan dengan rumus :
NPV = PV- I
Dimana :
PV = present value
I    = Biaya investasi awal

2. IRR
Menurut Dahlan (2011), internal rate of return (IRR) dinyatakan dengan rumus :
IRR = Ir +[NPVir/(NPVir+NPVit)]  X  (It - Ir)
Dimana :
Ir                   = Bunga rendah
It             = Bunga tinggi
NPV Ir       = NPV pada bunga rendah
NPVIt         = NPV pada bunga tinggi

Analisa Statistik Uji t (t test)
a.     Kegunaan: Uji t untuk membandingkan rata-rata populasi yang berskala interval
b.     Contoh kasus: Peneliti ingin membandingkan dua kelompok pekerja.
c.     Hipotesis:
*   Hipotesis penelitian: Ada perbadaan rata-rata antara kedua kelompok pekerja tersebut.
*   Hipotesis Operasional:

-   H0 : Tidak ada perbedaan rata-rata antara kedua kelompok pekerja tersebut
-   H1 : Ada perbedaan rata-rata antara kedua kelompok pekerja tersebut

HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Daerah Penelitian
   Secara administratif Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang terletak di Dukuh Tawang, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal dan secara astronomis terletak di antara 6o550.3” Lintang Selatan dan 110o02’49”
       Adapun batas wilayah kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang sebagai berikut :
* Sebelah Utara     : Rumah Penduduk
* Sebelah Timur     : Rumah Penduduk
* Sebelah Selatan  : Gedung Sekolah
* Sebelah Barat     : Sungai Kalikuto

Kondisi Perikanan Daerah Penelitian
      Alat tangkap yang ada di Pelabuhan Perikana Pantai Tawang adalah cantrang 42 unit, mini purse seine 12 unit, payang 49 unit, gill net 157 unit, jaring dogol 205 unit, jaring arad 746 unit. Jumlah alat tangkap yang berada di kawasan Kabupaten Kendal pada tahun 2011 dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Jumlah alat tangkap yang digunakan di Kabupaten Kendal pada tahun 2011
No.
Alat Tangkap
Tawang
Bandengan
Sikucing
Tanggul malang
1
Arad
746
25
25
0
2
Gill net
157
71
46
2
3
Dogol
205
156
193
31
4
Payang
49
0
35
0
5
Cantrang
42
0
0
0
6
Mini purseine
12
6
58
0
Jumlah
1211
258
357
33
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan, 2011
     Pada tabel 2. Jumlah alat tangkap yang banyak digunakan nelayan di daerah PPP Tawang adalah alat tangkap alat tangkap jaring arad hal ini karena operasi penangkapan jaring arad yang tidak mengenal musim. Sedangkan untuk alat tangkap payang dan cantrang memiliki jumlah yang hampir sama berada di urutan ke empat dan ke lima dengan selisih yang jauh dibandingkan jumlah jaring udang, arad, gill net, dan dogol.
      Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang, khususnya di Tempat Pelelangan Ikan Tawang, desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Alasan dipilih lokasi tersebut karena dari ke empat TPI yang di kelola oleh PPP Tawang, hanya di TPI Tawang yang terdapat alat tangkap cantrang dan payang yang digunakan untuk judul penelitian ini.

Kependudukan
      Data statistik desa 2011 mencatat jumlah penduduk di Desa Gempolsewu sebanyak 12.596 jiwa dengan 3.776 kepala keluarga. Mata pencaharian penduduk sebagian besar (95,45%) pada sektor pertanian, selebihnya bekerja di sektor perdagangan dan jasa. Jumlah nelayan di Tawang 5.603 orang, atau 51,32% dari seluruh nelayan yang ada di Kabupaten Kendal, yang terdiri dari 862 orang nelayan juragan (15,38%) dan 4.741 orang nelayan pendega (84,62%). (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2011).

Aspek Teknis Alat Tangkap
Alat Tangkap Payang
     Payang adalah pukat kantong yang digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan, dimana kedua sayapnya berguna untuk menakut-nakuti atau mengejutkan serta menggiring ikan supaya masuk ke dalam kantong (Subani  dan Barus, 1989).
    Alat tangkap payang yang digunakan oleh nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang adalah payang ampera. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, konstruksi jaring payang memiliki panjang jaring keseluruhan antara 180-250 m. Secara umum payang memiliki bagian-bagian antara lain:
1.    Bagian jaring, terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
  1. Sayap, terbuat dari dari nylon multifilament dengan ukuran mata jaring 8 inchi.
  2. Body, terbuat dari bahan nylon multifilament dengan ukuran mata jaring mulai 4 inchi.
  3. Kantong, terbuat dari waring dengan ukuran mata jaring 2 mm.
2.   Pemberat
Jumlah pemberat 20–30 buah. Bahan pemberat dari batu, dengan ukuran  panjang antar pemberat 10-15 m          dan berat tiap pemberat 200 gr.

3.   Pelampung
 Pelampung yang digunakan sekitar 100-200 buah, tergantung ukuran payang dan jarak antar pelampung 23-       30 cm serta pelampung ini terbuat dari gabus plastik. Pelampung yang digunakan terdiri dari pelampung besar      yang terbuat dari sterofom dan pelampung kecil terbuat dari plastik.

4.   Tali
Tali yang terdapat pada payang terdiri dari tali ris atas, tali ris bawah, tali pelampung dan tali pemberat.              Bahan yang digunakan adalah polyethylene. Panjang tali yang digunakan untuk menarik adalah 50 m.

Cara pengoperasian alat tangkap payang
Langkah-langkah pengoperasian alat tangkap payang ini adalah sebagai berikut:
a. Persiapan
   Persiapan dilakukan di darat dan di atas kapal. Persiapan yang dilakukan di darat antara lain persiapan BBM, perbekalan melaut, es batu. Sedangkan persiapan yang dilakukan di kapal adalah persiapan alat tangkap.
b. Penurunan jaring (setting)
    Satu orang nelayan turun ke laut membawa salah satu tali penarik, sedangkan tali penarik yang lain tetap di kapal. Kapal dijalankan pelan-pelan sambil menurunkan jaring. Ujung tali yang tadi dikaitkan di buritan kapal, kemudian dilepaskan dan dibawa ke haluan kapal.
c. Hauling
  Penarikan jaring dimulai dengan menarik jaring dari arah haluan. Penarikan jaring dilakukan dengan kecepatan penuh agar bagian bawah jaring membentuk kantong dan ikan tidak meloloskan diri. Unit penagkapan ikan dengan alat tangkap payang menggunakan tenaga kerja (ABK) sebanyak 12 orang. Tenaga kerja (ABK) tersebut terdiri dari 11 orang ABK biasa dan 1 orang juru mudi (nahkoda).

Hasil tangkapan alat tangkap payang
      Alat tangkap payang merupakan jenis alat tangkap penangkap ikan-ikan pelagis yang hidup pada permukaan perairan. Hasil tangkapan yang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap payang umumnya merupakan jenis ikan konsumsi tinggi seperti ikan Tongkol (Euthynnus allecterates), Teri (Stolephorus commersonil), Kembung (Rastrelliger brachysoma), dan yang lain.

Alat tangkap cantrang
      Cantrang adalah alat tangkap jenis pukat kantong yang memiliki sayap yang sama panjangnya, posisi yang sama antara mulut bagian atas dan bagian bawah. Sedangkan dari bentuknya alat tangkap tersebut menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari daerah penangkapannya sama seperti trawl yaitu untuk menangkap sumberdaya ikan demersal terutama ikan dan udang (Subani dan Barus, 1989).
      Konstruksi alat tangkap cantrang di TPI Tawang terdiri dari tiga bagian, yaitu sayap (wing), badan (body), dan kantong (code end) serta cantrang dilengkapi oleh tali selambar yang sangat panjang. Bagian-bagian cantrang tersebut adalah:
1. Sayap (wing) berfungsi untuk menghalau ikan agar masuk ke dalam kantong. Bahan dan Mesh size : PE dan 6–8 inchi
2. Badan (body) berfungsi untuk mengkonsentrasikan ikan menuju ke kantong. Bahan dan Mesh size : PE dan 6–8 inchi
3. Kantong (code end) berfungsi untuk menampung hasil tangkapan. Bahan dan Mesh size : PE dan 1 inchi

Cara pengoperasian jaring cantrang
a. Persiapan
       Operasi penangkapan jaring cantrang dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap, mengikat tali selambar dengan sayap jaring. 
    b. Setting     
     Setting dimulai dengan penurunan pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan tali selambar pada saat akan dilakukan hauling. Pada saat melakukan setting kapal bergerak melingkar menuju pelampung tanda. 
    c. Hauling
       Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat jaring. Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam kantong jaring.

Hasil tangkapan alat tangkap cantrang
      Hasil tangkapan cantrang kebanyakan adalah ikan-ikan demersal yang hidupnya didekat perairan dasar yang tidak terlalu dalam seperti ikan Cumi-cumi (Loligo sp), Petek (Leiognathus tauvina), Layur (Trichiurus savala), Bawal hitam (Formio niger), Kuniran (Upeneus sulphureus), dan yang lain.

Aspek Finansial
      Aspek finansial dalam usaha perikanan menggunakan jaring payang dan cantrang  meliputi beberapa aspek yaitu modal usaha, pendapatan, pengeluaran dan keuntungan.

Modal
     Modal merupakan faktor penting untuk memulai suatu usaha, dalam penelitian ini adalah usaha perikanan menggunakan jaring payang dan cantrang. Modal yang diperlukan dalam usaha perikanan dengan menggunakan jaring payang dan cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang adalah kapal, mesin, alat tangkap dan alat bantu penangkapan serta peralatan lain yang dapat mendukung kelancaran usaha penangkapan, seperti yang dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Modal rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
Modal
Jenis jaring
Jaring payang (Rp)
Jaring cantrang (Rp)
Kapal
26.566.667
43.666.667
Mesin
8.616.667
12.033.333
Alat tangkap
4.600.000
2.383.333
Alat bantu
-
3.350.000
Total
39.783.333
61.633.333
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
     Modal rata-rata usaha perikanan jaring payang dan jaring cantrang adalah Rp 39.783.333 dan Rp 61.633.333. Dari tabel tersebut terlihat bahwa modal yang dibutuhkan nelayan cantrang lebih besar daripada modal yang dibutuhkan nelayan payang. Modal yang dikeluarkan untuk usaha jaring cantrang lebih besar karena jaring cantrang menggunakan alat bantu penangkapan dalam hal ini adalah gardan.

Biaya
     Biaya total pada usaha perikanan dibedakan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap meliputi biaya penyusutan dan biaya perawatan, sedangkan biaya tidak tetap meliputi biaya operasional dan biaya tenaga kerja. Biaya operasional yang dikeluarkan oleh nelayan jaring payang dan cantrang adalah biaya unuk membeli BBM dan perbekalan. 

     A. Biaya tetap
     Biaya tetap dalam usaha penangkapan dengan alat tangkap payang dan cantrang di perairan Kendal khususnya di Tawang terdiri dari biaya penyusutan dan biaya perawatan. Biaya tetap yang dikeluarkan nelayan jaring payang dan nelayan jaring cantrang dapat dilihat dengan menjumlahkan biaya penyusutan dan biaya perawatan. Biaya tetap rata-rata dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Biaya tetap rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
Jenis Biaya
Jenis jaring
Payang
Cantrang
Biaya penyusutan
5.405.006
8.788.056
Biaya perawatan
4.126.410
5.807.692
Lelang
3.295.050
4.652.500
Biaya tetap
12.826.466
19.248.248
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Biaya tetap rata-rata yang dikeluarkan nelayan jaring cantrang lebih besar daripada biaya rata-rata yang dikeluarkan nelayan jaring payang karena biaya rata-rata penyusutan dan perawatan jaring cantang lebih besar dibanding biaya rata-rata penyusutan dan perawatan jaring payang sehingga berpengaruh pada biaya tetapnya. Biaya tetap rata-rata jaring payang sebesar Rp 12.826.466 sedangkan biaya tetap rata-rata yang dikeluarkan nelayan jaring cantrang sebesar Rp 19.248.248.

B. Biaya tidak tetap
               Biaya tidak tetap/berubah adalah biaya yang dalam periode tertentu jumlahnya dapat berubah, tergantung pada tingkat produksi yang dihasilkan. Dalam hal ini yang berubah adalah biaya totalnya, sedangkan biaya persatuannya adalah tetap misalnya biaya bahan baku dan biaya buruh pembantu (Sutawi, 2002).
           Dalam usaha penangkapan ikan dengan menggunakan jaring payang dan jaring cantrang di Tawang, yang termasuk biaya tidak tetap meliputi biaya perbekalan, dan biaya untuk BBM. Biaya tidak tetap rata-rata yang dikeluarkan nelayan jaring payang dan jaring cantrang dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Biaya tidak tetap rata-rata jaring payang dan cantrang
Jenis Biaya
Jenis jaring
Payang
Cantrang
Biaya perbekalan
26.425.385
13.774.359
Biaya BBM
27.720.000
27.000.000
Biaya tidak tetap
54.145.385
40.774.359
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Biaya tidak tetap rata-rata untuk jaring payang adalah Rp 54.145.385 dan untuk jaring cantrang sebesar Rp 40.774.359. Hal ini disebabkan karena perbedaan jumlah perbekalan payang yang lebih besar. Perbekalan yang besar disebabkan karena jumlah ABK pada kapal dengan alat tangkap payang yang lebih banyak dibandingkan jumlah ABK kapal dengan alat tangkap jaring cantrang.

C.    Biaya total
Biaya total adalah keseluruhan biaya dari suatu unit usaha. Biaya total dalam usaha penangkapan jaring payang dan jaring cantrang didapatkan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya total yang dikeluarkan nelayan jaring payang dan nelayan jaring cantrang dapat dilihat dari Tabel 6.
Tabel 6. Biaya total rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
Jenis biaya
Jenis jaring
Payang
Cantrang
Biaya tetap
12.826.466
19.248.248
Biaya tidak tetap
54.145.385
40.774.359
Biaya total
61.566.845
51.234.551
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Biaya total rata-rata yang dikeluarkan nelayan jaring payang lebih banyak dibanding nelayan jaring cantrang. Hal ini disebabkan biaya tidak tetap yang dikeluarkan usaha jaring payang lebih banyak dibandingkan biaya tidak tetap yang dikeluarkan usaha jaring cantrang. Biaya total yang dikeluarkan nelayan jaring payang sebesar Rp 61.566.845 sedangkan untuk nelayan  jaring cantrang sebesar Rp 51.234.551.

Pendapatan
     Pendapatan pada usaha penangkapan ikan adalah nilai jual dari hasil tangkapan setelah operasi penangkapan selesai dilakukan. Nilai pendapatan tergantung dari jenis dan berat total ikan yang tertangkap dan di jual. Total pendapatan yang diperoleh pada usaha penangkapan ikan menggunakan alat tangkap payang dan cantrang dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Pendapatan rata-rata usaha jaring payang dan cantrang
Uraian
Nilai
Payang (Rp/th)
Cantang (Rp/th)
Musim Puncak
47.256.000
79.350.000
Musim Biasa
84.546.000
106.750.000
Pendapatan per tahun
131.802.000
186.100.000
Sumber : Hasil penelitian, 2012.
Pendapatan dari kedua alat tangkap tersebut apabila dilihat dari pendapatan total per tahun akan terlihat bahwa pendapatan jaring cantrang lebih besar dibandingkan pendapatan jarring payang, hal ini karena hasil tangkapan jaring payang lebih banyak dan memiliki nilai ekonomis tinggi dibandingkan hasil tangkapan jaring cantrang.

Keuntungan
Dalam keuntungan yang telah dilakukan sebelumnya terlihat nilai-nilai yang dibutuhkan untuk terjaminnya keberlangsungan atau keberlanjutan perikanan tangkap secara ekonomi (Nababan B. O, Yesi D. S. dan M Hermawan, 2008).
Keuntungan diperoleh dari total pendapatan yang diperoleh dikurangi dengan total pengeluaran. Nelayan akan menekan biaya perbekalan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Keuntungan nelayan jaring payang dan jaring cantrang dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Keuntungan rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
Uraian
Jenis jarring
Payang
Cantrang
Pendapatan
131.802.000
186.100.000
Biaya total
61.566.845
51.234.551
Keuntungan
70.235.155
134.865.449
Sumber : Hasil Penelitian, 2012
Berdasarkan tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa keuntungan per tahun usaha penangkapan ikan dengan menggunakan jaring cantrang lebih besar dibandingkan usaha penangkapan ikan dengan jaring payang. Keuntungan rata-rata pada usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap payang sebesar Rp 70.235.155, dan keuntungan pada usaha penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap cantrang sebesar Rp 134.865.449. Pendapatan rata-rata nelayan dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Pendapatan rata-rata nelayan dengan alat tangkap payang dan cantrang
Uraian
Jenis jaring
Payang (Rp/th)
Cantrang (Rp/th)
Pendapatan
131.802.000
186.100.000
Biaya total
61.566.845
51.234.551
Keuntungan
70.235.155
134.865.449
Juragan
28.094.062
53.946.180
Nahkoda
7.023.515
23.119.791
ABK
3.511.758
11.559.896
Sumber : Penelitian, 2012
Berdasarkan tabel 9 dapat dilihat bahwa pendapatan nelayan cantrang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan nelayan payang. Pendapatan untuk nakkoda dan ABK nelayan payang sebesar Rp 7.023.515 dan Rp 3.511.758. Sedangkan pendapatan per tahun untuk nakkoda dan ABK nelayan cantrang sebesar Rp 23.119.791 dan Rp 11.559.896.  

Analisis Undiscounted criteria
Analisis yang digunakan adalah analisis R/C ratio, rentabilitas, dan (payback period)

Analisis R/C Ratio
Perhitungan tingkat keuntungan dari jaring payang dan jaring cantrang di gunakan R/C ratio untuk mengetahui perbandingan antara penerimaan dan total pengeluaran. R/C ratio jaring payang dan cantrang dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. R/C ratio rata-rata usaha perikanan jaring payang dan jaring cantrang
Uraian
Jenis jaring
Payang (Rp/th)
Cantrang (Rp/th)
Pendapatan
131.802.000
186.1000.000
Biaya total
61.566.845
51.234.551
R/C
2,14
3,63
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Tabel 10 menunjukan nilai R/C ratio untuk kedua usaha perikanan lebih dari 1, berarti bahwa kedua usaha perikanan tersebut efisien dijalankan. Nilai R/C jaring cantrang lebih besar, berarti bahwa usaha perikanan jaring cantrang lebih efisien daripada usaha perikanan jaring payang. Nilai R/C didapatkan untuk jaring payang sebesar 2,14 sedangkan R/C untuk jaring cantrang sebesar 3,63.

Analisis rentabilitas
Perhitungan rentabilitas merupakan perbandingan antara keuntungan (pendapatan bersih) selama periode tertentu dengan modal yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut. Rentabilitas usaha perikanan payang dan usaha perikanan cantrang dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Rentabilitas rata-rata usaha perikanan jaring payang dan cantrang
Uraian
Jenis jaring
Payang (Rp/th)
Cantrang (Rp/th)
Keuntungan
70.235.155
134.865.449
Biaya total
61.566.845
51.234.551
Rentabilitas (%)
1,14
2,63
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Menurut Riyanto (1995), nilai rentabilitas di atas 25% menunjukan bahwa usaha tersebut bekerja pada kondisi efisien dan sebaliknya. Dari perhitungan rentabililitas usaha perikanan jaring payang dan usaha perikanan jaring cantrang diperoleh rata-rata rentabilitas untuk masing-masing usaha adalah 114% dan 263% yang berarti bahwa nilai tersebut >25% sehingga usaha tersebut dapat dikatakan efisien.

Analisis payback period
Perhitungan payback period  modal diperlukan untuk mengetahui periode waktu pengembalian investasi sehingga dapat menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang ditanam pada suatu usaha dapat diperoleh kembali seluruhnya (Tajerin, Manadiyanto dan Sapto A. P, 2003).
Analisis payback period digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menutupi modal investasi dalam hitungan tahun atau bulan, jika seluruh pendapatan usaha yang dihasilkan digunakan untuk menutupi modal investasi (Umar, 2003). Payback period pada usaha perikanan dengan jaring payang dan usaha perikanan dengan jaring cantrang dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Payback period rata-rata usaha jaring payang dan cantrang
Modal
Jenis jaring
Payang (Rp/th)
Cantrang (Rp/th)
Investasi
39.783.333
61.633.333
Keuntungan
70.235.155
134.865.449
PP
1,76
2,19
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Pada usaha perikanan jaring payang dan usaha perikanan jaring cantrang diperoleh nilai payback period untuk jaring payang 1,76 tahun atau 21 bulan 12 hari dan untuk jaring cantrang 2,19 tahun atau 26 bulan 7 hari. Pengembalian modal untuk kedua alat tangkap berarti cepat karena kurang dari 3 tahun. Pengembalian modal untuk jaring payang lebih cepat daripada pengembalian modal jaring cantrang. Hal ini disebabkan karena keuntungan yang diperoleh nelayan jaring payang lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh nelayan jaring cantrang dan modal investasi untuk usaha jaring cantrang lebih besar dibandingkan usaha jaring payang.

Analisis Discounted Criteria
Kegiatan usaha merupakan kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan manfaatnya. Sumber-sumber tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang-barang konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat. Analisis Kriteria investasi dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Analisis kriteria investasi usaha jaring payang dan cantrang
Modal
Jenis jaring
Payang (Rp/th)
Cantrang (Rp/th)
NPV
60.556.447
92.934.560
IRR
33%
36%
Sumber: Hasil Penelitian, 2012
Pada penelitian ini digunakan discount rate 16% sesuai dengan tingkat bunga bank Indonesa. Dari discount rate 16% didapatkan nila NPV untuk jaring payang sebesar Rp 60.556.447 dan untuk jaring cantrang sebesar 92.934.560.
Analisis Statistik

Tabel 14. Uji T pendapatan nelayan payang dan cantrang

Alat tangkap
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean


Payang
15
9229644.40
457856.407
118218.016


Cantrang
15
8930400.00
422270.427
109029.756


Payang
15
13313047.60
401842.078
103755.179


Cantrang
15
13241476.20
613835.334
158491.602


Pendapatan ABK                                                   Independent Samples Test
















Dari hasil perhitungan dengan SPSS menggunakan UJI t-test didapatkan nilai t hitung perbedaan pendapatan ABK untuk nelayan payang sebesar 1,861 lebih kecil dari t table ( +1,999) dan nilai sig sebesar 0,073 lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima. Artinya tidak ada perbedaan pendapatan ABK nelayan payang. Dari hasil perhitungan dengan SPSS menggunakan UJI t-test didapatkan nilai t hitung perbedaan pendapatan ABK nelayan cantrang sebesar 0,378 lebih kecil dari t tabel (+1,999) dan nilai sig sebesar 0,257 lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendapatan ABK nelayan payang dan pendapatan ABK nelayan cantrang tidak ada perbedaan atau rata-ratanya sama, hal ini dapat terlihat pada pendapatan ABK nelayan cantrang sebesar Rp 3.511.758 per tahun, untuk rata-rata pendapatan ABK nelayan payang sebesar Rp 11.559.806 per tahun.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.  Pendapatan rata-rata nelayan ABK payang di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang per trip sebesar Rp 15.963. Sedangkan pendapatan rata-rata nelayan ABK cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang per hari sebesar Rp 57.799
2. Dari hasil analisis keuntungan diperoleh kedua usaha di atas masih layak dijalankan karena NPV bernilai positif. Nilai IRR untuk jaring payang sebesar 33% dan untuk jaring cantrang sebesar 36%. Dari kedua analisis kedua usaha penangkapan masih menghasilkan keuntungan dan masih layak untuk dijalankan;
3.   Pendapatan nelayan jaring cantrang dan payang tidak ada perbedaan pendapatan, hal ini dapat terlihat pada pendapatan ABK payang untuk t hitung dari usaha payang sebesar 1,861 dan t hitung ABK cantrang sebesar 0,378 yang lebih kecil dari t tabel sebesar + 1,999. Dapat dilihat dari rata-rata pendapatan ABK nelayan jaring cantrang sebesar Rp 3.511.758, untuk rata-rata pendapatan ABK nelayan payang sebesar Rp  11.559.896.

Saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan yang didapatkan pada penelitian tesebut di atas, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan kebijakan pemerintah daerah untuk lebih memeratakan kesejahteraan khususnya masyarakat nelayan; dan
2.    Perlu adanya aturan teknis pelaksanaan yang baku dengan dasar hukum yang kuat mengenai sistem bagi hasil dengan mempertimbangkan segala aspek dan kondisi yang ada agar semua pihak yang terlibat pada usaha penangkapan di daerah tersebut tahu mengenai hak dan kewajibannya sehingga akan tercipta suatu sistem pembagian produksi secara adil bagi kepentingan semua pihak

DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, M. N. 2011. Pembangunan Perikanan Tangkap di Kabupaten Belitung: Suatu Analisis Trade-Off Ekonomi Berbasis Lokal. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 257 hlm.

Departemen Kelautan dan Perikanan; Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 2006. Pedoman Umum Nilai Tukar Nelayan. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta. 18 hlm.

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kendal. 2011. Perikanan Dalam Angka Kabupaten Kendal Tahun 2011.

Firdaus, M. 2007. Manajemen Agribisnis. BumiAksara, Jakarta, 51 hlm.

Hendratmoko, C dan H. Marsudi. 2010. Analisis Tingkat Keberdayaan Sosial Ekonomi Nelayan Tangkap di Kabupaten Cilacap. Dinamika Sosial Ekonomi 6 (1) edisi Mei.

Kuswadi. 2007. Analisis Keekonomian Proyek. Penerbit Andi. Yogyakarta. 121 hlm.

Murdjijo, F. X. 2001. Pengembangan Sumberdaya Kelautan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 352 hlm.

Nababan, B. O, Yesi D. S, dan M. Hermawan. 2008. Tinjauan Aspek Ekonomi Keberlanjutan  Perikanan  Tangkap Skala Kecil di Kabupaten Tegal Jawa Tengah.Buletin Ekonomi Perikanan 8 (2): 50-68.

Pratama A. F. 2012.  Analisis Kelayakan Finansial Usaha Penangkapan Ikan Menggunakan Panah Dan Bubu Dasar Di Periran Karimunjawa. Universitas Diponegoro, Semarang Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Volume 1 Hlm 22-31 (http://ejournal-s1.undip.ac.id)

Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi, dengan Pokok Bahasan Analisis. U-Press. Jakarta.
.
Subani, W dan H. R. Barus.1989. Alat Penangkap Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Sugiyono. 2002. Statistika Untuk Penelitian. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sutawi. 2002. Manajemen Agrobisnis. Bayu  Media dan UMM Press.Malang, 277 hlm.

Sutrisno. 1982. Pengantar Studi Kelayakan Suatu Proyek. BPFE. Yogyakarta.

Tajerin, M, dan S. A. Pranowo. 2003. Analisis Profitabilitas dan Distribusi Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Menggunakan Pukat Cincin Mini di kabupaten Tuban, Jawa Timur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 9 (6):23-34.

Umar, H. 2003. Studi Kelayakan dalam Bisnis Jasa. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, 168 hlm.

Winardi. 1990. Politik Ekonomi. Tarsito, Bandu